Feeds:
Pos
Komentar

SHOLAT KHUSYU

SHOLAT KHUSYU

Secara etimologi (bahasa), al-khusyu’ memiliki makna al-khudhû’ (tunduk). Seseorang dikatakan telah mengkhusyu’kan matanya jika dia telah menundukkan pandangan matanya. Secara terminologi (istilah syar’i) al-khusyu’ adalah seseorang melaksanakan shalat dan merasakan kehadiran Alloh Subhannahu wa Ta’ala yang amat dekat kepadanya, sehingga hati dan jiwanya merasa tenang dan tentram, tidak melakukan gerakan sia-sia dan tidak menoleh. Dia betul-betul menjaga adab dan sopan santun di hadapan Alloh Subhannahu wa Ta’ala. Segala gerakan dan ucapannya dia konsentrasikan mulai dari awal shalat hingga shalatnya berakhir.

Berikut firman Alloh Subhannahu wa Ta’ala tentang sholat yang khusyu’, yang artinya: “Yaitu orang-orang yang khusyu’ didalam sholatnya” (QS: Al-Mu’minun:2). Ayat tersebut ditafsirkan oleh Ibnu Abbâs Radhiallaahu anhu bahwa: “Orang-orang yang khusyu’ adalah orang-orang yang takut lagi penuh ketenangan”. Dan Ali Bin Abi Thalib berkata bahwa ”Yang dimaksud dengan khusyu’ dalam ayat ini adalah kekhusyu’an hati”.

  1. A. Kiat-kiat yang dilakukan sebelum melaksanakan shalat.

Sebelum memulai ibadah shalat maka perhatikanlah kiat-kiat berikut ini:

Menjawab seruan adzan dengan lafazh sebagaimana yang dikumandang kan oleh muadzin kecuali lafazh: “hayya ‘alash shalah dan hayya ‘alal falâh” maka jawabannya adalah “lâ haula walâ quwwata illa billâh” sebagaimana perintah Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam dalam sabdanya, yang artinya: “Apabila kalian mendengar muadzin (mengumandangkan azan) maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya….” (HR: al-Bukhari, Muslim dan yang lainnya).

Lalu berdo’a selesai adzan dengan do’a yang diajarkan oleh Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam seperti Allahumma Rabba hadzihid da’watit taammah…dst.

Kemudian berdo’a sesuai dengan keinginan masing-masing, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam, yang artinya: ”Do’a antara adzan dan iqomah tidak tertolak” (HR: Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah dan lainnya)

Berwudhu sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam. Melakukan wudhu berarti telah merealisasikan perintah Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, yang terdapat dalam firman-Nya, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu, basuhlah tanganmu hingga siku, dan usaplah (sapulah) kepalamu, serta basuhlah kakimu hingga kedua mata kakimu…” (QS: Al-Maidah: 6)

Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam bersabda tentang keutamaan wudhu, yang artinya: “Barangsiapa yang berwudhu’, lalu berwudhu’ dengan sebaik-baiknya, kemudian dia shalat, niscaya dosa antara sholatnya itu dan sholatnya yang lain (berikutnya) diampuni.” (HR: Ibnu Khuzaimah dan Imam Ahmad)

Dan bahkan orang yang berwudhu` itu berarti dia telah menggugurkan dosa-dosanya bersamaan dengan air yang mengalir dari anggota wudhu` yang telah dibasuh. (HR: Ibnu Khuzaimah dan Muslim)

Bersiwak (atau menggosok gigi) sebelum shalat sebagaimana perintah Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam dalam sebuah haditsnya, yang artinya: “Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu’ (dalam riwayat yang lain) setiap kali hendak sholat” (HR: Muttafaq ‘Alaih)

Memakai pakaian yang sopan (layak), bersih dan wangi, serta menjauhi semaksimal mungkin pakaian yang sudah kotor, bau dan tidak layak untuk dipakai dalam shalat. Menghindari pakaian yang ketat sehingga menyebabkan kesulitan untuk bergerak dan bernafas, janganlah memakai pakaian bergambar atau bertulisan agar mata kita terjaga dan juga agar orang lain tidak terganggu, lalu perhatikan juga pakaian yang membungkus tubuh kita, apakah sudah memenuhi syarat? Apakah sudah benar-benar menutupi aurat? Semua hal ini sebagai bentuk realisasi dari firman Alloh Subhannahu wa Ta’ala, yang artinya: “Wahai manusia pakailah pakaianmu yang indah setiap kali memasuki masjid” (QS:Al-’Araf: 31)

Jagalah konsetrasi dalam melaksanakan shalat dengan cara menghindari tempat dan suasana yang panas atau gerah, sebagaimana larangan Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam untuk tidak shalat Dzuhur pada saat panas sangat menyengat. Beliau Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Laksanakanlah sholat Dzuhur pada waktu panas sudah mereda, karena panas yang sangat menyengat itu adalah hawa panas yang berasal dari neraka jahannam” ( HR: al-Bukhari, Ahmad dll).

Dan jagalah konsentrasi shalat kita dengan memenuhi segala kebutuhan jasmani kita yang mendesak, seperti; kalau seandainya sebelum shalat perut kita terasa mulas, ingin buang air maka janganlah ditahan-tahan, sebab kalau kita shalat sambil menahan perut kita yang mulas pasti konsetrasi shalat kita terganggu.

Demikian juga apabila kita merasa lapar sebelum melaksanakan shalat maka bersegeralah untuk makan untuk memenuhi hajat perut kita tersebut agar rasa lapar itu tidak membuyarkan konsetrasi kita ketika sedang shalat, dan mengenai dua permasalahan diatas Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Tiada sholat ketika makanan sudah terhidang dan tiada sholat ketika seseorang menahan hajat buang airnya” (HR: Muslim, Ahmad dan lain-lain).

Carilah tempat shalat yang tenang, yang jauh dari kebisingan, yang jauh dari suara-suara berisik dan suara-suara gaduh, Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Jauhilah suara-suara berisik seperti di pasar (ketika berada di masjid)” (HR: Muslim)

Oleh karena itu siapa saja yang berada di masjid hendaklah menjaga ketenangan dan ketentraman masjid, apabila kita berdzikir maka lirihkanlah suara dzikir kita, dan apabila kita membaca al-Qur’an maka lirihkanlah suara bacaan Al-Qur’an kita. Jangan sampai suara kita membuyarkan konsentrasi saudara-saudara kita yang sedang bermunajat kepada Alloh Subhannahu wa Ta’ala, Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya orang yang shalat sedang bermunajat kepada Rabnya, maka perhatikanlah saudaramu yang sedang bermunajat itu, Janganlah keraskan bacaan Qur’an kalian!” (HR: al-Bukhari dan Imam Malik)

Luangkanlah waktu untuk menunggu datangnya waktu shalat. Meluangkan waktu menunggu datang nya waktu shalat bisa dilakukan di dalam masjid terutama bagi laki-laki, sedangkan bagi wanita maka lebih utama di rumah. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala akan memberikan keutamaan dan fadhilah yang sangat banyak bagi orang yang menunggu waktu shalat, Sebagaimana Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Senantiasa dihitung perbuatan seorang hamba itu sebagai pahala sholat selama ia menunggu datangnya waktu sholat, dan para malaikat (senantiasa) berdo’a untuknya, “Ya Alloh ampunilah dia dan rahmatilah dia,” sampai seorang hamba itu selesai (melaksanakan sholat) atau ia berhadats, (ada yang bertanya); apa yang dimaksud dengan hadats, (kata Rasululloh); keluar angin dari lubang dubur baik bau maupun tidak” (HR: Muslim dan Abu Daud)

Dalam hadits yang lain beliau Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Maukah aku beritahukan tentang beberapa hal, yang mana Alloh akan menjadikannya sebagai pelebur dosa dan pengangkat derajat kalian? Para shahabat menjawab, “Tentu mau ya Rasululloh,” lalu Rasululloh bersabda, yang artinya: “Sempurnakan wudhu’ walau dalam keadaan tidak menyenangkan (spt; dingin), perbanyak langkah menuju masjid, menunggu sholat setelah melaksanakan sholat, maka yang demikian itu adalah ar-ribath, yang demikian itu ar-ribath.” (HR: Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Muslim)

Ar-ribath adalah senantiasa menjaga kesucian, shalat dan ibadah maka pahalanya diumpamakan seperti jihad di jalan Alloh Subhannahu wa Ta’ala.

Bayangkan kalau hari ini, detik ini juga, seorang ajudan Presiden Republik Indonesia, menghubungi kita dan menyatakan, “Anda di tunggu di Istana. Bapak Presiden meminta saya untuk segera mendampingi anda untuk makan siang di istana Merdeka.” Melambung setinggi mungkin, kira-kira begitulah perasaan awam seperti kita seandainya itu benar terjadi.

Memori otak akan menyiapkan ruang seluas mungkin untuk mengingat setiap detik momen itu dimulai hingga detik berakhirnya jamuan tersebut. Pikiran senantiasa mengingatkan apa saja yang harus disampaikan mulut untuk rajin menceritakan momen bahagia tersebut. Bahkan tiap detilnya. Kalau sudah begini tiba-tiba kita diserang amnesia sementara. Lupa utang bulan lalu di warung sebelah, lupa pakaian belum dicuci, lupa janji sama kawan, bahkan lupa ternyata tak punya satu buah jas-pun, untuk dipakai ke Istana Presiden. Lupa banyak hal kecuali undangan itu.Sumringah.

Tapi, mari kita akui dengan jujur, bagaimana perasaan kita kalau yang mengundang adalah Sang Maha Pemilik Alam Semesta, lewat muadzim yang mengumandangkan adzan, mengundang kita untuk bersujud di rumah-Nya, masjid atau mushola di dekat rumah atau kantor. Saat ini juga. Apakah sama kuatnya perasaan itu ? Masih beratkah langkah-langkah kita, padahal yang mengundang adalah Dia yang menciptakan kita dan memberi nafas Presiden Indonesia ? tak seperti pergi ke Istana dimana pakaian yang harus kita kenakan harus formal dan diatur oleh protokoler, Allah tidak meminta hambanya untuk memakai jas untuk datang ke masjid, cukup pakaian yang menutup aurat.Tak peduli levis atau gamis.

Pertemuan yang pertama kali dengan Bapak Presiden haruslah berkesan, karena boleh jadi itulah yang terakhir. Presiden kan pejabat, so pasti sibuk dong. Untuk itu persiapan sebaik mungkin, patutlah dilakukan. Dari mulai pakaian yang dikenakan, minyak wangi yang disemprotkan, hingga apa yang hendak disampaikan saat Presiden menyalami tangan anda. Apakah cukup diam dengan takzim sambil terus menyunggingkan senyum, atau sedikit berbasa-basi, menanyakan kabar, atau … ah berharap Presiden yang bertanya, jadi jawabanlah yang harus disiapkan.

Allah tidak memaksa hambanya untuk pakai minyak wangi, tak juga berbasa-basi, karena janji Allah benar adanya. Allah selalu menunggu (hamba-NYA). Saat hati kita mengabarkan kesungguhan untuk datang kepada-NYA, Allah “berlari” menyambutnya. Setiap hari, setiap waktu selama nafas masih dikandung badan. Bahkan Allah menyebar undangan khusus di sepertiga malam untuk hamba-NYA yang hendak berkeluh kesah, mengadu, bahkan menangis sekalipun.Sepuas hati kita. Allah Maha Mendengar, Mahanya Kasih Sayang. Tak perlu protokoler, bahkan jika hambanya mampir setiap saat di rumah-NYA, Allah tak merasa terganggu. Allah justru senang sekali. Allah bisa tambah sayang sama hambanya. Tak perlu takut untuk salah kata, Allah Maha Dekat, sedekat urat nadi, Allah Maha Tahu.

Diundang ke Istana untuk bertemu dan berbincang langsung dengan Presiden, bagi banyak orang adalah mimpi di siang bolong. Apalagi berharap Presiden mendengar 1001 keluh-kesah kita sampai berjam-jam. Kalau yang ini jangan mimpi ! Sementara, diundang ke rumah Allah adalah mimpi yang setiap hari bisa terwujud. Hampir tak ada berita yang mengabarkan ada seorang rakyat atau pejabat yang menolak undangan Presiden. Tapi kenyataan kita yang menolak undangan Allah, kita yang tak mengindahkan panggilan adzan ? Kita yang menunda-nunda undangan Allah ? Kita yang memilih lanjutkan berselimut ketimbang beranjak jamaah subuh. Kita yang sibuk kerja sampai lembur, tapi abai shalat dzuhur.

Sebaliknya, banyak kita bersungguh-sungguh pada deadlines yang ditetapkan Bos atau Dosen untuk mahasiswa/i.Menjadi bencana, begitu pandangan kita, jika gagal memenuhi deadlines. Mereka yang punya pimpinan atau dosen yang killer tentu paham.

Pernah suatu ketika Presiden SBY geram karena menangkap basah anak buahnya tertidur saat beliau berpidato. Saat itu juga Presiden menegur pejabat yang dimaksud, dan mengingatkan pada semua agar tidak terulang. Ironisnya itu kejadian kedua setelah sebelumnya, di sebuah rapat kabinet, seorang pejabat sebuah lembaga pemerintah non departemen malah asyik berbincang-bincang ketimbang memperhatikan arahan dari Presiden.

Kejadian tersebut dalam derajat tertentu dapat dibaca, seorang Presiden, dengan kedatangan kita, masih BUTUH diperhatikan, dihormati sebagaimana seorang rakyat terhadap pemimpinnya. Sama halnya perasaan kita yang ingin bertemu Presiden, hingga menjadi sumringah jika mimpi itu bisa diwujudkan. Meski sekadar bersalaman saja.

Sementara hubungan kita dengan Allah adalah hubungan seorang hamba yang membutuhkan Rabb-nya, Allah SWT. Tempat kita bergantung dan memohon doa. Allah tidak BUTUH shalat kita, bahkan andai semua mahluk di bumi ini bermufakat untuk tak lagi menyembah Allah, ke-Maha-an Allah, tidak akan berkurang. Tapi Allah mencintai para ahli Ibadah. Karena Allah menciptakan manusia (dan jin) semata-mata hanya untuk beribadah.

Sikap kita yang abai terhadap panggilan adzan, panggilan lembut Allah, “marilah kita shalat, marilah menuju kemenangan”, menunjukkan bahwa kita tak merasa membutuhkan Allah ? Pernah gak kepikiran kalo semua “undangan shalat” yang tak terbalas, semua sikap kita yang menunda-nunda (shalat), abai terhadap panggilan Allah, sebagaimana abainya seorang pejabat tatkala Presidennya sedang berpidato, ditambah sebukit dosa-dosa kita,bukan saja sekadar mengundang marah, tapi murka-NYA Allah. Lalu dijumlahkan dengan segunung dosa-dosa kita, hasilnya tiket VIP menuju neraka. Naudzubillah minzalik.

  1. B. Keutamaan Shalot yang Khusyu’

Sesungguhnya Alloh Subhannahu wa Ta’ala telah memuji orang yang khusyu’ pada banyak ayat dalam al-Qur’an, di antara nya adalah:

Firman Alloh Subhannahu wa Ta’ala, yang artinya: “Sesungguhnya telah beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ didalam sholatnya”. (QS: Al-Mu’minun: 1-2)

Firman Alloh Subhannahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan mintalah pertolongan (kepada Alloh) dengan sabar dan sholat, karena sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”. (QS. al-Baqarah: 45)

Firman Alloh Subhannahu wa Ta’ala pada ayat yang lain, yang artinya: “Mereka yang berdo’a kepada Kami dengan penuh harapan dan rasa takut (cemas), dan mareka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami”. (QS: Al-Anbiya’: 90)

Alloh Subhannahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Mereka menyungkurkan mukanya dalam keadaan menangis dan kekhusyu’an mereka semakin bertambah” (QS: Al-Isra’: 109)

Alloh Subhannahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih, Apabila dibacakan ayat-ayat Alloh Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS: Maryam: 58)

Firman Alloh Subhannahu wa Ta’ala, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS: Al-Mulk: 12)

Tampak jelas dan nyata didalam ayat tersebut bahwa kekhusyu’an yang dimaksud adalah kekhusyu’an didalam shalat. Kekhusyu’an itu adalah sifat seorang beriman didalam shalat-shalat mereka sebagaimana disebutkan “فى صلاتهم خاشعون “ (yang khusyu’ didalam shalatnya) bukan kekhusyu’an didalam setiap aktivitasnya.

Hal itu juga dikuatkan oleh sebab turunnya ayat tersebut—sebagaimana disebutkan oleh Qurthubi—diriwayatkan dari al Mu’tamar dari Khalid dari Muhammad bin Sirin berkata,”Nabi saw melihat ke langit didalam shalat maka Allah swt menurunkan ayat ini,”الذين هم فى صلاتهم خاشعون” lalu Rasulullah saw melihat ke tempat dia sujud.”

Didalam riwayat Husyaim bahwa kaum muslimin saat itu menoleh dan memandang didalam shalatnya sehingga Allah turunkan “قد أفلح المؤمنون الذين هم فى صلاتهم خاشعون “ lalu mereka pun menghadapkan pandangannya didalam shalatnya kearah depan mereka. (al Jami’ Li Ahkamil Qur’an jilid VI hal 414).

Penuturan para mufassir pun didalam menerangkan ayat 2 surat al mukminun menegaskan bahwa kekhusuyu’an itu adalah didalam shalat-shalat orang yang beriman.

Ibnu Katsir mengatakan bahwa khusyu’ didalam shalat didapat dengan mengkonsentrasikan hati dengannya, menyibukkan hati dengannya bukan dengan yang lainnya dengan demikian maka shalat tersebut akan menjadi sesuatu yang menyenangkan hatinya, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Nasai dari Anas dari Rasulullah saw bersabda,”Dijadikan aku mencintai wewangian dan kaum wanita dan dijadikan shalat menjadi sesuatu yang menyenangkanku.”

Diriwayatkan dari seorang laki-laki yang telah memeluk islam bahwa Rasulullah saw bersabda,”Wahai Bilal gembirakanlah kami dengan shalat.” (Tafsirul Quranil Azhim juz V hal 359 – 360)

Sayyid Qutb mengatakan bahwa makna “Orang-orang yang khusyu dalam shalatnya” adalah hati mereka merasakan takut saat berdiri didalam shalatnya dihadapan Allah swt sehingga memberikan ketenangan dan kekhusyu’an, dari situ kekhusyu’an akan mengalir keseluruh anggota tubuh, tampilan dan gerakan-gerakannya, ruhnya diselimuti dengan kebesaran Allah dihadapannya, menutupi fikirannya dari segala macam kesibukan dan tidak disibukkan dengan selainnya… mereka tidak menyaksikan kecuali Allah, tidak merasakan kecuali kebesaran-Nya dan hati meeka bersih dari segala macam kotoran dan tidak menggabungkan sedikit pun dari kototan-kotoran itu dengan kebesaran Allah swt.. (Fii Zhilalil Qur’an juz IV hal 2454)

Demikian juga beberapa hadits Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam yang menjelaskan tentang keutamaan khusyu’ berikut ini:

Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, Rasululloh Shalallaahu alaihi wa salam bersabda, yang artinya: “Tujuh golongan yang mendapat naungan Alloh pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Alloh; …(dan disebutkan di antaranya) seseorang yang berdzikir (ingat) kepada Allah dalam kesendirian (kesunyian) kemudian air matanya mengalir.” (HR: Al-Bukhari, Muslim dan lain-lainya).

  1. C. Cara Sholat Menuju  Khusyu

Definisi. : Sholat adalah menyampaikan kepada Allah SWT dalam bahasa arab dengan memenuhi rukun dan syaratnya sholat.

Penjelasan : Sholat hukumnya wajib, hal ini sesuai Firman Allah SWT dalam QS 2 : 238, yaitu kewajiban bagi manusia untuk mendirikan sholat.

Didalam definisi sholat tersebut diatas yang perlu kita bahas adalah masalah ”menyampaikan kepada Allah SWT”.

Syarat kita ”menyampaikan” sesuatu adalah kita harus mengetahui terlebih dahulu apa-apa YANG AKAN KITA SAMPAIKAN. Setelah kita mengetahui apa-apa yang akan kita sampaikan SETELAH ITU kita sampaikan sesuatu tersebut.

Jadi syarat mutlak ”menyampaikan” adalah kita harus mengetahui yang akan kita sampaikan, baru kita sampaikan.

Jangan sampai kita menyampaikan sesuatu padahal kita belum mengetahui apa yang akan kita sampaikan. Kalau hal itu terjadi berarti kita BUKAN ”menyampaikan”, melainkan kita ”mengigau”.

Mengigau itu kita mengucapkan kata-kata tetapi kita tidak mengerti apa yang kita ucapkan.

Untuk itu jika kita melaksanakan sholat maka kita harus mengetahui terlebih dahulu apa-apa yang akan kita ucapkan saat sholat, hal ini sesuai Firman Allah SWT dalam QS 4 : 43.

Sekarang kita kupas menyampaikan ”kepada Allah SWT”.

”Kepada Allah SWT”, berarti tujuan kita ”menyampaikan” adalah kepada Allah SWT, bukan kepada yang lain.

Oleh karena itu jika sholat kita tidak khusyuk, atau pikiran kita kemana-mana maka Allah SWT melarang akan hal tersebut, hal ini sesuai Firman Allah SWT dalam QS 107 : 4, 5.

Disinilah pentingnya sholat dalam keadaan khusyuk.

Untuk menuju sholat secara khusyuk, maka pembahasan sholat kita lakukan sesuai kebutuhan saja, yaitu bahwa sholat itu terdiri dari GERAKAN dan UCAPAN.

Sehingga problemnya bagaimana kita melakukan Gerakan dan bagaimana kita mengucapkan pada saat sholat sehingga menghasilkan rasa khusyuk.

Yang perlu kita perhatikan bahwa didalam ucapan saat sholat ada yang merupakan ”Pernyataan” kita, misalnya ”Hidupku, Matiku semata-mata untuk Allah SWT”.

Oleh karena itu jika selesai sholat kita masih hidup berarti kita HARUS mewujudkan apa yang menjadi ”Pernyataan” kita saat sholat tersebut.

Pedoman.

Gerakan dilakukan dengan Pelan, Jelas, Lengkap dan disertai rasa menghadap kepada Allah SWT.

Ucapan dilakukan dengan Pelan, Jelas, Lengkap dan disertai rasa menghadap kepada Allah SWT serta kita harus mengerti dahulu apa-apa yang akan kita ucapkan saat sholat.

Untuk lebih jelasnya kita praktekan.

Tolok ukur keberhasilan.

Kita merasa bahagia saat melaksanakan sholat.

Akibatnya kita selalu mengharapkan datangnya waktu sholat dan kita telah menyiapkan diri ditempat sholat sebelum saatnya sholat tiba.

Keuntungan.

Sholat berisi berbagai macam permohonan, pujian kepada Allah SWT, oleh karena itu berbahagialah jika kita dapat melaksanakan sholat dengan khusyuk.

Pendorong semangat.

Jika kita telah meninggal dunia maka Sholat merupakan pertanyaan Malaikat yang paling penting . Jika sholatnya bagus, maka semua bagus. Jika sholatnya jelek maka celakalah kita.

PRAKTEK SHOLAT.

Praktek Sholat meliputi 3 hal yaitu :

1.            Menghadap Allah SWT yaitu : Praktek Konsentrasi merasa Menghadap atau merasa Diawasi.

2.            Melakukan Gerakan dengan tenang dan Tuma’ninah.

3.            Mengucapkan dengan pelan, tenang mengerti yang diucapkan.

Demikianlah kiat-kiat yang perlu kita perhatikan sebelum dan dalam melaksanakan shalat. Dengan merealisasikan itu semua mudah-mudahan shalat kita menjadi shalat yang khusyu’ dan diterima disisi Alloh Subhannahu wa Ta’ala.

Firman Allah swt :

Artinya : “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya,” (QS. Al Mukminun : 1 – 2)

Referensi :

Media Muslim Online

Era Muslim.com

Ridhoallah.com

Kitab Suci Al-Quran

Al-hadits

Dan sumber2  lainnya.

Berprasangka Baik

Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah pabrik dan
sama-sama tekun belajar Islam. Sama-sama mengamalkan ilmunya
dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali
harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru pengajiannya. Jaraknya
sekitar 10 km dari rumah peninggalan orang tua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil
supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi
mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia
miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaannya bekerja.

Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah
mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang
gadis yang cantik serta baik akhlaknya.

Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo’a memohon kepada Allah akan
sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan
itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan
Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu.

Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap
sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati
bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan
pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering
kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.

Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya
dengan perjalanan hidup adiknya. Dia teringat bahwa adiknya selalu membaca
selembar kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak pernah hafal
bacaan untuk berdo’a. Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati
adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan
hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do’a-do’anya
tiada dikabulkan oleh Allah azza wa jalla.

Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang
begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai
meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia
merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya
sehubungan do’anya tak pernah terkabul

Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan
amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada
selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya
yang berisi tulisan do’a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do’a untuk guru
mereka, do’a selamat dan ada kalimah di akhir do’anya:

“Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu, Ampunilah aku
dan kakak ku, kabulkanlah segala do’a kakak ku, bersihkanlah hati ku dan
berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku didunia dan akhirat,”*

Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak diduga
ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu dunia

Pada suatu hari, Hasan Al-Basri pergi mengunjungi Habib Ajmi, seorang sufi besar lain. Pada waktu salatnya, Hasan mendengar Ajmi banyak melafalkan bacaan salatnya dengan keliru. Oleh karena itu, Hasan memutuskan untuk tidak salat berjamaah dengannya. Ia menganggap kurang pantaslah bagi dirinya untuk salat bersama orang yang tak boleh mengucapkan bacaan salat dengan benar. Di malam harinya, Hasan Al-Basri bermimpi. Ia mendengar Tuhan berbicara kepadanya, “Hasan, jika saja kau berdiri di belakang Habib Ajmi dan menunaikan salatmu, kau akan memperoleh keridaan-Ku, dan salat kamu itu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh salat dalam hidupmu. Kau mencoba mencari kesalahan dalam bacaan salatnya, tapi kau tak melihat kemurnian dan kesucian hatinya. Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada pengucapan tajwid yang sempurna

Di zaman sekarang ini sulit sekali kita menemukan orang yang benar-benar mempunyai kriteria dekat kepada Tuhan, sering kali mata kita tertipu oleh penampilan zahir. Orang dekat dengan Allah itu adalah para Aulia-Nya, para kekasih-Nya yang beribadah semata-mata untuk mencari keridhaan Allah, dan menuntun orang-orang menuju kehadirat Allah. Seorang wali Allah dalam kehidupan sehari-hari bisa saja ber profesi sebagai seorang pedagang, ulama, guru sekolah, dan lain-lain. Hanya orang yang diberi petunjuk oleh Allah yang bisa berjumpa dengan wali-Nya.

Mempunyai bacaan benar (tajwid) yang sempurna memang salah satu syarat sah seseorang menjadi imam dalam shalat, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana hati nya bisa terus menerus bersama Allah selama dalam shalat. Ini hal yang sangat pokok, karena seorang imam akan mempertanggung jawab kan amalan makmum nya di hadapan Allah SWT. Kalau imam sepanjang shalat mengingat wanita-wanita cantik, mengenang harta, dan sejuta persoalan hidup, apakah pantas dijadikan sebagai imam?

Saya jadi teringat kisah Imam Al-Ghazali yang menjadi imam dalam shalat Ashar disebuah mesjid, Beliau baru saja mengajarkan hukum thaharah bagi wanita yang haid. Tanpa disadari pikiran Beliau saat shalat teringat kepada wanita yang sedang haid. Salah seorang yag menjadi makmum adalah adik kandung imam al-Ghazali. Setelah selesai shalat adik imam Al-Gazali menegur, “kenapa abang di rakaat kedua mengingat wanita yang lagi haid?” Imam Al-Ghazali sangat terkejut, selaku orang yang sangat ahli dalam hukum Islam telah hapal Al-Qur’an dan ribuan hadist, telah berpuluh tahun menjadi imam baru sekarang mengetahui kekeliruannya selama ini. Beliau berkata kepada adiknya, “Tajam sekali mata hati mu, mulai saat ini aku berguru kepada mu

Imam Al-Ghazali yang terkenal akan ilmu syariatnya, harus belajar lagi kepada adiknya yang ahli tasawuf bagaimana menjadi seorang Imam yang sah, lalu bagaimana dengan imam-imam zaman sekarang yang hanya mengandalkan kefasihannya?

Bacaan tetap lah bacaan, hapalan tetap lah hapalan yang tersimpan dalam otak yang mempunyai dimensi rendah, seorang hamba baca tetaplah akan menjadi hamba baca kalau pengetahuannya tidak di upgrade. Semoga tulisan ini menyadarkan kita semua, setelah kita fasih mengalunkan ayat Al-Qur’an tiba saatnya untuk men-fasih-kan hati dalam mengingat-Nya. Bagaimana caranya?

Bertanyalah kepada Ahli Zikir bila kamu tidak tahu” (An-Nahl, 43

Ditulis Oleh Abi Aqas

ILMU HIJRAH

Hijrah adalah Merubah Kebiasaan.

Kebiasaan TIDAK BAIK beralih ke kebiasaan BAIK

Hijrah Dijamin oleh ALLAH SWT Yaitu ENAK di Dunia dan ENAK di akherat QS.4 (Annissa) Ayat 100.

Diperlukan TEKAD & Keberanian untuk berhijrah

Kesimpulan : Hijrah itu Dunia ENAK & Di AKherat Enak “Tunggu Apa Lagi”.

Annisa ayat  100.  : Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

ILMU SENANG

Orang yang tidak baik maka senang berbuat tidak baik

Orang  yang baik maka senang berbuat baik

Dua-duanya merasa senang

Perasaan Tidak senang muncul jika masih dalam proses pindahnya dari kebiasaan lama ke kebiasaan baru.

Kesimpulan :

Agar segera merasa senang maka percepatlah proses perpindahaannya sehingga segeralah terbiasa.

ILMU MENJALANI

ALLAH SWT Melaknat orang yang mengetahui, tetapi tidak mau menjalani QS-61 (Asshaft)2, 3

Apa untungnya kita mengetahui kebaikan tetapi tidak mau menjalani

Kesimpulan :

Jika kita mengetahui pengetahuan maka SEGERALAH Berbuat TUNGGU APA LAGI.

METODE BERBUAT BAIK

Metode Sifatnya sementara

Metode dipakai selama kita belum hafal

Metode tidak dipakai setelah kita sudah hafal

Gunakan metode yang mudah & Benar

Metode mudah jika disajikan dengan sederhana

Metode Benar jika sudah memakai kata-kata wajar

Metode Benar jika ada di Al-quran dan ada di Alhadits.

Kesimpulan :

Jika sudah ada kata wajar maka terima saja jangan dibantah-jalankan.

ILMU PERMODALAN

Allah SWT memberi perintah kepada kita untuk Mengabdi.

Berarti ALALH SWT Memberi Modal yang Cukup kepada kita, untuk dipakai mengabdi kepada ALLAH SWT secara baik.

Umur salah satu modal hidup, berarti Allah SWT memberi kita umur yang cukup

Jalan lurus adalah jarak terpendek menempuh jarak terpendek perlu waktu sedikit.

Jalan berbelok-belok meriupakan jalan panjang, menempuh jalan panjang perlu waktu panjang

Kesimpulan :

Gunakan Jalan lurus agar umur kita cukup untuk menyiapkan bekal di akherat.

ILMU BERJAMAAH

Allah SWT senang jika berjuang bersama-sama QS 61 ayat 4

Manusia memerlukan orang lain

Berjamaah saling mengingatkan

Berjamaah saling memberi semangat

Berjamaah Saling menolong & Meringankan

Kesimpulan :

Berjamaahlah dalam melakukan kebaikan.

ILMU WAJAR

Senangkah kita menjadi orang yang wajar

Jika senang menjadi orang wjar maka terimalah hal-hal yang wajar

Aneh orang yang wajar tetapi senang hal-hal yang tidak wajar

Kesimpulan :

Terimalah hal yang wajar jika kita memang senang menjadi orang yang wajar

ILMU BELUM CUKUP PAHALA

Masuk syurga perlu pahala yang cukup

Umur kita terbatas

Kita tidak mengetahui apakah pahala kita cukup

Celakalah jika pahala kita tidak cukup

Kesimpulan :

Segeralah berbuat kebaikan untuk menyiapkan bekal kita diakherat

ILMU GULA

Ada gula ada Semut

Ada bangkai ada lalat

Jika ingin semut maka taruhlah gula

Jika ingin lalat taruhlah bangkai

Jika ingin setan maka kotorilah Qolbu

Jika ingin Nur Allah maka Bersihkanlah Qolbu

Kesimpulan :

Baik cocok dengan baik, tidak baik cocok dengan tidak baik.

ILMU TAHAPAN

Perbuatan baik ada 3 tahapan

Pertama Berat, kedua Biasa-biasa saja, ketiga Bahagia

Perbuatan Tidak Baik ada 3 tahapan

Pertama senang, kedua biasa-biasa saja, ke tiga penderitaan (Berat)

Kesimpulan :

Wajar jika berbuat baik maka awalnya terasa berat.

ILMU Bergerak

ALLAH SWT merubah nasib manusia berdasarkan usaha manusia QS 8 (An-anfaal) ayat 63

Syarat usaha adalah bergerak

Jika ingin diubah nasibnya maka bergeraklah

Bergerak berarti tidak malas

Kesimpulan :

Bergeraklah agar nasib kita berubah

ILMU SENTER

Senter dibawa ke tempat gelap dia merasa sinarnya terang

Senter dibawa ke tempat terang di merasa sinarny gelap

Manusia mendekat kepada ALLAH SWT merasa tidak mempunyai kemampuan

Manusia merasa mempunyai kemampuan berarti dia melangkah tidak menuju kepada ALLAH SWT

Kesimpulan :

Orang menuju ALLAH SWT maka hari demi hari merasa semakin tidak mempunyai kemampuan

ILMU WAKTU

Untuk berbuat perlu mengetahui Teorinya

Untuk berbuat perlu saranyanya

Untuk berbuat perlu adanya Waktu

Teori dan sarana Oke, Seba b jenis perbuatannya kit sendiri yang menentukan

Adakah waktu untuk melakukan perbuatan ?

Jika ada waktu maka kerjakan, jika tidak ada waktu maka tidak perlu dikerjakan

Kesimpulan :

Pelaksanaan tergantung ada tidaknya waktu

ILMU BERGANTUNG KEPADA ALLAH SWT

Manusia pasti meninggal dunia

Manusia tidak memngetahui kemana setelah meninggal dunia

Manusia tidak mengetahui nasibnya setelah meninggal dunia

Hanya Allah SWT saja yan g berhak menetukan tempat tujuan kita dan yang mentukan nasib kita

Kesimpulan : Setelah meninggal dunia ternyata kita harus bergantung kepada ALLAH SWT, maka seharusnya mulai sekarang kita membina hubungan baik dengan ALLAH SWT

ILMU SEDERHANA

Rasa enak muncul karena yang terjadi sesuai dengan keinginan

Rasa tidak enak muncul karena yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan

Keinginan sedikit lebih mudah terwujud daripada keinginan banyak

Kesederhanaan menyebabkan keinginan sedikit

Kesimpulan :

Sikap Sederhana menyebabkan mudahnya muncul rasa bahagia

ILMU MLM (Multi level marketing)

Manusia bekerja sesuai pembawaan masing-masing QS 17 (al-israa) ayat 84

Orang mendapat rejeki sesuai pekerjaan masing-masing

Karena manusia mendapat gaji dari ALLAH SWT melalui pekerjaannya , maka manusia Wajib menyampaikan ajarannya melalui dimana kita bekerja/ hidup

Sebagai pendidik eajib menyampaikan melalui sekolahnya

Kesimpulan :

Kita wajib menyampaikan ajaran ALLAH SWT setidak-tidaknya melalui dimana kita bekerja hal ini disebebkan kita di Gaji oleh ALLAH SWT melalui pekerjaan kita.

ILMU MUDAH MENERIMA PENGETAHUAN

Jangan melihat siapa yang berbicara QS 15 (Al-hijr) ayat 39-40

Perhatikan apa yang diucapkan

Jangan mengkait-kaitkan siapa yang berbicara dengan keadaan lingkungannya lihat surat HUD (11) ayat 16 (walaupun anak Nabi Nuh tidak baik toh Nabi Nuh Tetap Baik)

Bertanyalah kepada orang yang sudah menjalani

Kesimpulan :

Agar mudah menerima pengetahuan maka perhatikan apa yang diucapkan, jangan memperhatikan siapa yang berbicara.

ILMU DURIAN

Buah Durian dilihat dari manapun(dilihat dari muka, belakng, atas, bawah) ya tetap buah durian

Kejadi ada yang menyenangkan hati dan ada yang tidak menyenangkan hati.

Semua kejadian dapat terjadi pasti atas ijin ALLAH SWT, sehingga dilihat dari jenis kejadian apapun pasti terjadi karena ijin ALLAH SWT.

ALLAH SWT MAHA BAIK

Kesimpulan :

Walaupun kejadian tidak menyenangkan hati, ALLAH SWT TETAP MAHA BAIK, karena ijin yang dikeluarkan berdasarkan kasih sayangnya.

ILMU SIFAT

Sikap kita dapat berubah mennjadi sifat karena pengaruh keadaan/kebiasaan

Keadaan tidak baik manghasilkan sikap tidak baik, sehingga sifat kita menjadi tidak baik

Keadaan baik menghasilkan sikap baik sehingga sifat kita menjadi baik

Kesimpulan :

Beradalah dilingkungan yang baik dan berjalanlah dijalan yang lurus agar sifat kita menjadi baik

ILMU PERASA

Orang yang berperasaan halus maka sangat perasa

Allah SWT Maha Halus (Al-LAtief) maka sangat perasa

Kesimpulan :

Pada saat menyampaikan kepada ALLAH SWT bersikaplah yang sopan HATI-HATI karena ALLAH SWT sangat perasa.

ILMU MENUAI

Perbuatan sekecil Zarah / debu dibalas oleh SWT, QS 10 (Yunus ) ayat 61

Siapa menanam akan menuai

Berbuat tidak baik, menuai tidak baik

Berbuat baik, menuai baik

Kesimpulan :

Jika ingin bahagia maka bahagiakan orang lain.

ILMU BUAH KELAPA

Buah kelapa fungsinya banyak

Sabutnya dapat dibuat kesed, jokm mobil Airnya dapat dibuat minuman, nata decoco, Kelapanya dapat dibuat minyak, memasak.

Mengambil sabutnya kita mempunyai kesed

Mengambil airnya kita mempunyai minuman

Mengambil kelapanya kita mempunyai minyak

Kejadian di dunia beraneka ragam dan dapat membentuk sifat manusia

Kesimpulan :

Ambillah suatu kejadian didunia sehingga dapat mempengaruhi dan membentuk sifat kita menjadi baik

ILMU DARAH

Didalam tubuh manusia Darah & Pembuluh darah

Pembuluh darah ukurannya beraneka ragam

Kekentalan darah beraneka ragam

Darah terbuat dari berbagai macam makanan dan minuman

Kemampuan manusia hanya makan dan minum saja, tidak mampu membuat darah

Kesimpulan :

Manusia tidak emmpunyai kemapuan apa-apa dan selama ALLAH SWT lah yang memberi pertolongan kepada manusia.

ILMU IKAN DAN BURUNG

Ikan dapat berenang didalam air

Burung dapat terbang di angkasa

Kapal selam dapat menyelam di dalam air

Pesawat terbang dapat terbang di udara

Allah SWT menciptakan ikan dan burung sebelum manusia membuat kapal selam dan pesawat terbang

Berarti ilmu menyelam dan ilmu terbang sudah diciptakan ALLAH SWT sebelum manusia menemukannya

Kesimpulan :

Dapatkan ilmu-ilmu ALLAH SWT yang ada di alam ghaib untuk kesejahteraan ummat manusia.

ILMU MENGHADAPI KEHIDUPAN

Hidup selalu menghadapai aneka ragam permasalahn

Setiap hari kita selalu menghadapi bagaimana menyelesaikan beragam permasalahan hidup

Padahal jika sudah saatnya kematian maka tidak dapat diundur atau dimajukan.

Berarti sebenarnya hidup itu “Kontrak Waktu”

Bukan orang mati karena tidak dapat menyelesaikan masalah hidupnya

Oleh karena itu alihkan permasalahan hidup kepada pemanfaatna waktu untuk mengabdi.

Jangan  terkecoh, bingung menghadapi kehidupan

Gunakan waktu sebaik-baiknya untuk :

Niat IKHLAS, Usaha secara maksimal dan berjalan dijalan yang lurus

ILMU KEMAMPUAN

Orang yang tidak bias melihat (buta), tidak mungkin digoda Iblis, untuk melihat hal-hal yang menarik hati.

Orang yang tidak dapat mendengar tidak mungkin digoda Iblis untuk mendengar suara merdu

Orang Pandai, dengan kepandaiannya tersebut iblis menggoda kita.

Orang Bodoh, dengan kebodohannya tersebut Iblis menggoda kita

Kesimpulannya:

Orang yang tidak emmpunyai kemampuan tidak akan digoda oleh iblis dengan ketidakmampuannya tersebut.

Oleh karena itu hati-hati jika kita mempunyai kemampuan, sebab Iblis menggoda manusia berdasarkan kemampuan apa yang  ada pada diri kita.

ILMU SEHAT

Manusia bias sehat dan bsia sakit

Makanan ada yang enak rasanya dan ada yang tidak enak rasanya

Tubuh sehat jika maka rasanya enak

Tubuh sakit jika makan rasanya tidak enak

Rokhani manusia bias sehat dan bias sakit

Keadaan hidup ada yang menyenangkan dan ada yang tidak menyenangkan di hati

Rokhani sehat mudah menerima keadaan hidup

Rokhani sakit sulit menerima keadaan hidup

Kesimpulan:

Sehatkan rokhani agar mudah dan senang menerima keadaan hidup.

MENGENAL SIFAT ALLAH SWT

Didunia ada tempat yang menyenangkan dan tempat yang tidak menyenangkan

Orang tua yang baik tentunya membawa keluarganya ke tempat yang menyenangkan

Allah SWT Maha baik, sehingga menermpatkan manusia di tempat yang menyenangkan yaitu di dunia

Oleh karena itu manusia harus mampu merasa bahagia menjalani hidup di dunia

Kesimpulan:

Jadikan suatu kebiasaan bahwa kita harus mampu merasakan kebahagian hidup di dunia latihlah setiap saat untuk menikmati , bukan untuk selalu menuruti hawa nafsu.

ILMU MAKRIFATULLAH

Alalh SWT mempunyai Dzat, Nama , Sifat dan Perbuatan

Manusia tidak mungkin mengenal Dzat Allah SET, sebab tidak sama dengan Mahluknya QS 112 (Al- Ikhlash) ayat 4

Yang harus dikenal manusia adalah Nama, Sifat dan PerbuatanNya.

Nama, Gelar, ebutan ada 99 (asma ulhusna)

Sifat menyatu dengan Nama, Gelar dan sebutan

PerbuatanNya dapat dilihat isi alam raya ini.

Kesimpulan :

Kenalilah Nama, Sifat dan Perbuatan ALLAH SWT

ILMU BISMILLAH

Dengan Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang

Dengan berarti bersama

Dengan Asma Allah diucapkan setiap akan melakukan perbuatan, berarti perbuatan tersebut dapat terjadi dengan Ijin ALLAH SWT.

Ar-Rohman dan Ar-Rohim berarti ijin yang diberikan berdasarkan kasih saying-Nya

Kesimpulan :

Pandanglah bahwa setiap kejadian itu terjadi karena kasih saying-Nya, bersyukurlah, nikmati semua kejadian dengan penuh rasa syukur kepada ALLAH SWT

ILMU MENEPATI JANJI

Alalt SWT pasti menpati janjinya

Oleh karena itu pikirkan saja bagaimana caranya kita dapat memenuhi persyaratan yang diberikan ALLAH SWT, agar ALLAH SWT berkenan mewujudkan janjinya.

Contoh:

Didalam Surat 2 (Albaqarah) ayat 153, Allah berjanji bahwa akan memberikan pertolongan kepada kita jika Kita beriman, Sabar, dan sholat dengan benar.

ILMU AR-ROHMAN dan AR-ROHIM

Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Penyanyang

AllAH SWT itu MAHA BAIK, bahkan mahluk yang mejadi musuhNya pun tetap diberi rezeki.

Yang lebih hebat lagi adalah rejeki yang diberikan kepada musuhNya dijadikan alat untuk memusuhi Allah SWT. Ini betul-betul menunjukkan betapa baikNya ALLAH SWT.

Kesimpulan :

Jangan sekali-kali berprasangka jelek Kepada ALLAH SWT, dan selalu bersyukurlah bahwa Allah SWT yang mengijinkan kejadian dapat terjadi benar-benar MAHA BAIK.

ILMU ALHAMDULILLAH

Segala Puji Hanya Milik/Bagi ALLAH Pemilik Semesta Alam

Karena setiap kejadian dapat terjadi berdasarkan ijin ALLAH SWT dan ALLAH SWT itu MAHA SEMPURNA maka pujian yang terwujud pasti hanya milik ALLAH SWT bukan milik selain ALLAH SWT.

Karena pujian hanya milik ALLAH SWT maka jangan memuji selain ALLAH SWT dan jangan bersikap sehingga orang lain memuji kita.

ILMU JALAN YANG LURUS

Tunjukanlah Kami Jalan yang lurus

Perbuatan baik hanya dapat ditempuh dengan jalan yang benar atau jalan yang lurus

Jalan yang benar atau jalan yang lurus

Yang paling mengetahui jalan yang benar hanyalah ALLAH SWT.

Oleh karena itu manusia wajib mohon jalan yang benar kepada ALLAH SWT

Kesimpulan :

Selalu mohonlah jalan yang lurus agar kita dapat berbuat baik.

ILMU PEMBALASAN

Allah SWT menguasai hari pembalasan

Manusia hidup bermasyarakat.

Setiap manusia menyebabkan adanya suatu kejadian

Oleh karena itu pada saat yang sama didalam masyarakat muncul kejadian yang berjuta-juta jumlahnya.

Setiap manusia menginginkan kebahagian, kebahagian terjadi jika kondisi masyarakat baik, Kondisi masyarakat menjadi baik jika manusia berbuat baik.

Manusia berbuat baik jika adanya suatu hukum bahwa perbuatan manusia mendapat balasan yang setimpal.

Yang mampu memberi balasan yang setimpal hanyalah ALLAH SWT.

Kesimpulan:

ALLAH SWT –lah yang menguasai hari pembalasan.

Ali bin Abi Talib r.a. berkata, “Sewaktu Rasullullah SAW duduk bersama para sahabat Muhajirin dan Ansar, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang Yahudi lalu berkata, ‘Ya Muhammad, kami hendak bertanya kepada kamu kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa A.S. yang tidak diberikan kecuali kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqarrab.’

Lalu Rasullullah SAW bersabda, ‘Silahkan bertanya.’

Berkata orang Yahudi, ‘Coba terangkan kepada kami tentang 5 waktu yang diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu.’

Sabda Rasullullah saw, ‘Shalat Zuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah segala sesuatu kepada Tuhannya. Shalat Asar itu ialah saat ketika Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Shalat Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam a.s. Maka setiap mukmin yang bershalat Maghrib dengan ikhlas dan kemudian dia berdoa meminta sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya. Shalat Isyak itu ialah shalat yang dikerjakan oleh para Rasul sebelumku. Shalat Subuh adalah sebelum terbit matahari. Ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya setiap orang kafir.’

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah saw, lalu mereka berkata, ‘Memang benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakanlah kepada kami apakah pahala yang akan diperoleh oleh orang yang shalat.’

Rasullullah SAW bersabda, ‘Jagalah waktu-waktu shalat terutama shalat yang pertengahan. Shalat Zuhur, pada saat itu nyalanya neraka Jahanam. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya uap api neraka Jahanam pada hari Kiamat.’

Sabda Rasullullah saw lagi, ‘Manakala shalat Asar, adalah saat di mana Nabi Adam a.s. memakan buah khuldi. Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi yang baru lahir.’

Selepas itu Rasullullah saw membaca ayat yang bermaksud, ‘Jagalah waktu-waktu shalat terutama sekali shalat yang pertengahan. Shalat Maghrib itu adalah saat di mana taubat Nabi Adam a.s. diterima. Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan shalat Maghrib kemudian meminta sesuatu daripada Allah, maka Allah akan perkenankan.’

Sabda Rasullullah saw, ‘Shalat Isya’ (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi menunaikan shalat Isyak berjamaah, Allah S.W.T haramkan dirinya daripada terkena nyala api neraka dan diberikan kepadanya cahaya untuk menyeberangi Titian Sirath.’

Sabda Rasullullah saw seterusnya, ‘Shalat Subuh pula, seseorang mukmin yang mengerjakan shalat Subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberikan kepadanya oleh Allah S.W.T dua kebebasan yaitu:
1. Dibebaskan daripada api neraka.
2. Dibebaskan dari nifaq.

Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan daripada Rasullullah saw, maka mereka berkata, ‘Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (saw). Kini katakan pula kepada kami semua, kenapakah Allah S.W.T mewajibkan puasa 30 hari ke atas umatmu?’

Sabda Rasullullah saw, ‘Ketika Nabi Adam memakan buah pohon khuldi yang dilarang, lalu makanan itu tersangkut dalam perut Nabi Adam a.s. selama 30 hari. Kemudian Allah S.W.T mewajibkan ke atas keturunan Adam a.s. berlapar selama 30 hari.

Sementara diizin makan di waktu malam itu adalah sebagai kurnia Allah S.W.T kepada makhluk-Nya.’

Kata orang Yahudi lagi, ‘Wahai Muhammad, memang benarlah apa yang kamu katakan itu. Kini terangkan kepada kami mengenai ganjaran pahala yang diperolehi daripada berpuasa itu.’

Sabda Rasullullah saw, ‘Seorang hamba yang berpuasa dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas kepada Allah S.W.T, dia akan diberikan oleh Allah S.W.T 7 perkara:

1. Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badannya (daging yang tumbuh daripada makanan yang haram).
2. Rahmat Allah sentiasa dekat dengannya.
3. Diberi oleh Allah sebaik-baik amal.
4. Dijauhkan daripada merasa lapar dan dahaga.
5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan).
6. Diberikan cahaya oleh Allah S.W.T pada hari Kiamat untuk menyeberang Titian Sirath.
7. Allah S.W.T akan memberinya kemudian di syurga.’

Kata orang Yahudi, ‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Katakan kepada kami kelebihanmu di antara semua para nabi.’

Sabda Rasullullah saw, ‘Seorang nabi menggunakan doa mustajabnya untuk membinasakan umatnya, tetapi saya tetap menyimpankan doa saya (untuk saya gunakan memberi syafaat kepada umat saya di hari kiamat).’

Kata orang Yahudi, ‘Benar apa yang kamu katakan itu Muhammad. Kini kami mengakui dengan ucapan Asyhadu Alla illaha illallah, wa annaka Rasulullah (kami percaya bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan engkau utusan Allah).’

Sedikit peringatan untuk kita semua: “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Surah Al-Baqarah: ayat 155)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Surah Al-Baqarah: ayat 286)

(Sumber : Edi S. Kurniawan, Muhammad Haryadi, e-mail : Riyadi_albatawy@yahoo.co.id)

Nabil Abdurahman, Islamic Call College Libya

Manfaat Dimensi Shalat dalam Sendi Kehidupan Manusia

Secara etimologi, kata sholat menurut para pakar bahasa adalah bermakna doa. Shalat dengan makna doa tersirat di dalam salah satu ayat al-Qur;an: “Dan shalatlah (mendo’alah) untuk mereka. Sesungguhnya shalat (do’a) kamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS. At-Taubah: 103)

Dalam ayat ini, shalat yang dimaksud sama sekalibukan dalam makna kewajiban mendirikan  shalat yang lima waktu, melainkan dalam makna bahasanya secara asli yaitu berdoa. Shalat diartikan dengan doa, karena pada hakikatnya shalat adalah suatu hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhannya, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya hamba, apabila ia berdiri untuk melaksanakan shalat, tidak lain ia berbisik pada Tuhannya. Maka hendaklah masing-masing di antara kalian memperhatikan kepada siapa dia berbisik”.

Adapun secara terminologi, shalat adalah sebuah ibadah yang terdiri dari beberapa ucapan dan gerakan yang sudah ditentukan aturannya yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Lebih jauh, definisi ini merupakan hasil rumusan dari apa yang disabdakan Nabi SAW: “Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku shalat”. Dengan demikian, dasar pelaksanaan shalat adalah shalat sebagaimana yang sudah dicontohkan Nabi SAW mulai bacaan hingga berbagai gerakan di dalamnya, sehingga tidak ada modifikasi dan inovasi dalam praktik shalat.

Ada banyak sekali perintah untuk menegakkan shalat di dalam Al-Quran. Paling tidak tercatat ada 12 perintah dalam Al-Quran dengan lafaz “Aqiimush-shalata” (Dirikanlah Shalat) dengan khithab kepada orang banyak, yaitu pada surat: Al-Baqarah ayat 43, 83 dan110, An-Nisa ayat 177 dan 103, Al-An`am ayat 72, Yunus ayat 87, Al-Hajj: 78, An-Nuur ayat 56, Luqman ayat 31, Al-Mujadalah ayat 13, dan Al-Muzzammil ayat 20. Juga,ada 5 perintah shalat dengan lafaz “Aqimish-shalata” (Dirikanlah shalat) dengan khithab hanya kepada satu orang, yaitu pada Surat: Huud ayat 114, Al-Isra` ayat 78, Thaha ayat 14, Al-Ankabut ayat 45, dan Luqman ayat 17.

Dalam Islam, shalat menempati posisi vital dan strategis. Ia merupakan salah satu rukun Islam yang menjadi pembatas apakah seseorang itu mukmin atau kafir. Nabi SAW bersabda: “Perjanjian yang mengikat antara kami dan mereka adalah mendirikan shalat. Siapa yang meninggalkannya, maka sungguh dia telah kafir”(H.R Muslim)

Sedemikian vitalnya shalat, maka ibadah shalat dalam Islam tidak bisa diganti atau diwakilkan. Dia wajib bagi setiap muslim laki-laki dan wanita dalam kondisi apapun: baik dalam kondisi aman, takut, dalam keadaan sehat dan sakit, dalam keadaan bermukim dan musafir. Oleh karena itu, pelaksanaan shalat bisa dilakukan dengan berbagai cara, tergantung pada keadaan pelakunya; kalau tidak bisa berdiri boleh duduk, kalau tidak bisa duduk boleh berbaring, dan seterusnya.

Maka dari itu, shalat merupakan faktor terpenting yang menyangga tegaknya agama Islam. Sehingga, sudah sepatutnya, umat Islam memahami maknanya dan mengetahui manfaat dimensi shalat dalam kehidupan manusia, khususnya dimensi rohani, soasial, dan medis shalat.

Namun, sikap yang pertama kali harus ditunjukkan adalah bahwa kita wajib menjadikan shalat sebagai suatu ibadah dulu. Kemudian setelah itu, baru mengetahui manfaatnya dalam sendi kehidupan kita.

A. Dimensi rohani shalat

Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.”(Qs. Thaha: 14). “(Yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah, hati menjadi tenang.” (Qs. Ar-Ra’du: 28)

Dua ayat di atas mengisyaratkan kepada kita, bahwa soal ketenangan jiwa adalah janji Allah yang sudah pasti akan diberikan kepada orang yang shalat. Hati bisa tenang bila mengingat dan dzikir kepada Allah, sedang sarana berdzikir yang paling efektif adalah shalat. Tentu bukan sembarang shalat. Sebagaimana dalam ayat di atas, perintah Allah adalah tegakkan, bukan laksanakan.

Mendirikan shalat beda dengan sekadar melaksanakan. Mendirikan shalat punya kesan adanya suatu perjuangan, keseriuasan, kedisiplinan, dan konsentrasi tingkat tinggi. Jika sekadar melaksanakan, tak perlu susah payah, cukup santai asal terlaksana. Itulah sebabnya Allah memilih kata perintah “aqim” yang berarti dirikan, tegakkan, luruskan.

Maka, kualitas shalat seseorang diukur dari tingkat kekhusyu’annya, yaitu hadirnya hati dalam setiap aktifitas shalat. Dalam hal ini Imam al-Ghazali menyebutkan enam makna batin yang dapat menyempurnakan makna shalat, yaitu: kehadiran hati, kefahahaman akan bacaan shalat, mengagungkan Allah, “haibah” (segan), berharap, dan merasa malu.

Shalat dapat di sebut sebagai dzikir, manakala orang yang shalatnya itu menyadari sepenuhnya apa yang dilakukan dan apa yang diucapkan dalam shalatnya. Dengan kata lain dia tidak dilalakani oleh hal-hal yang membuat shalatnya tidak efektif dan komunikatif. Dalam hadist riwayat Abu Hurairah di sebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Berapa banyak orang yang melaksanakan shalat, keuntungan yang diperoleh dari shalatnya, hanyalah capai dan payah saja.” (HR. Ibnu Majah).

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa yang lebih penting dan utama dalam shalat itu bukan gerakan fisik, akan tetapi gerakan batin. Gerakan fisik bisa diganti atau ditiadakan jika memang tidak mampu. Tapi dzikir kepada Allah tetap harus berjalan, kapanpun dan bagaimanapun juga. Seorang yang tidak mampu berdiri karena sakit, bisa mengganti gerakan berdirinya dengan hanya duduk, mengganti gerakan ruku’nya dengan isyarat sedikit membungkuk. Demikian juga sujudnya. Tidak bisa berdiri diperbolehkan duduk. Tidak bisa duduk dengan berbaring dan sebagainya.Sedangkan gerakan batin tidak bisa di ganti. Ini yang mutlak harus ada. Tanpa kehadiran hati, shalat hanya merupakan gerakan tanpa arti.

Itulah sebabnya Allah SWT memberi ancaman yang cukup keras kepada kita, dengan kata yang amat pedas, “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dalam shalatnya.” (Qs. al-Maa’uun: 4-5)

Jadi, janji-janji Allah SWT kepada orang yang shalat, seperti: ketenangan batin, ketentraman hati dan apalagi pahala tidak serta merta diberikan Allah begitu saja. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Bagi yang lalai dalam shalatnya bukan saja tidak bakal mendapatkan janji-janji tadi, malah ada ancaman keras dari Allah SWT.

B. Dimensi sosial shalat

Allah SWT berfirman: “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs. Al-Ankabuut:45)

Dengan jelas ayat di atas mengisyaratkan bahwa salah satu pencapaian yang dituju oleh adanya kewajiban shalat adalah bahwa pelakunya menjadi tercegah dari kemungkinan berbuat jahat dan keji. Ini mengindikasikan bahwa shalat merupakan salah satu rukun Islam yang mendasaar dan pijakan utama dalam mewujudkan sistem sosial Islam. Kemalasan dan keengganan melaksanakan salat disamping sebagai tanda-tanda kemunafikan, dan semakin lunturnya imannya seseorang, dalam skala besar merupakan tahapan awal kehancuran komunitas muslim. Karena secara empirik shalat merupakan faktor utama dalam proses penyatuan dan pembangunan kembali kekuatan-kekuatan komunitas muslim yang sebelumnya rusak dan terpencar-pencar sebagai akibat melalaikan mendirikan salat.

Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda: “Sholat adalah tiang agama, barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama, dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama.” (HR. Imam Baihaqi). Hal ini mengindikasikan bahwa kekokohan sendi-sendi soasial masyarakat muslim akan sangat tergantung kepada sejauh mana mereka menegakkan shalat yang sebenar-benarnya. Apabila hal ini tidak menjadi prioritas utamanya, maka kekeroposan sendi-sendi sosial kemasyarakatan akan menghinggapinya, yang berlanjut kepada kehancuran umat Islam itu sendiri. Karena suatu bangunan itu kuat, ketika tiangnya kokoh.

Shalat diakhiri dengan salam, hal ini mengindikasikan bahwa setelah seorang hamba melakukan hubungan (komunikasi) yang baik dengan Allah, maka diharapkan hubungan yang baik tersebut juga berdampak pada hubungan yang baik kepada sesama manusia. Dengan kata lain, jika seorang hamba dengan penuh kekhusyu’an dan kesungguhan menghayati kehadiran Tuhan pada waktu shalat, maka diharapkan bahwa penghayatan akan kehadiran Tuhan itu akan mempunyai dampak positif pada tingkah laku dan pekertinyadalam kehidupan bermasyarakat.

Hal ini diwujudkan dengan jaminan melakukan apa saja yang dibenarkan syariah guna membantu saudara-saudaranya yang memang butuh bantuan. Yang kaya membantu yang miskin, yang kuasa membantu yang teraniaya, yang berilmu membantu yang masih belajar, supaya terjadi saling hubungan yang serasi dan harmonis, Orang yang salatnya baik, tidak akan pernah mengeluarkan ucapan dan atau perbuatan kepada sesamanya, yang maksudnya memang jelek.

Orang yang salatnya baik, akan bertindak santun dengan sahabatnya, tetangganya dan siapapun juga, akan menghormati tamunya dengan penuh perhatian, dan akan bertindak dan bertaaruf secara santun dengan saudaranya sesama manusia apalagi terhadap saudaranya seiman, dengan tanpa membedakan baju dan golongannya. Orang yang salatnya bagus bukan sekedar membekas hitam di keningnya, lebih dari itu adalah bagaimana mengimplementasikan kasih sayangnya kepada lingkungannya (rohmatun lilalamin).

Orang yang salatnya baik justru dituntut lebih banyak kiprahnya dalam kehidupan sosial. Keliru besar jika mereka yang shalat, hanya mengelompok, menyendiri dan mengexklusifkan diri seolah hidup dalam ruang hampa sosial, dan menafikan dan terkesan merendahkan pihak lain. Sungguh Allah membenci dan tidak menyukai orang-orang yang membanggakan dirinya, angkuh, sombong dan merasa paling baik, paling suci dibanding dengan yang lain. Intinya orang yang sholatnya baik adalah tercermin dalam amal salehnya di luar sholat.

C.  Dimensi medis shalat

Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimana pendapatmu apabila seandainya di depan pintu salah seorang di antara kalian terdapat sungai, dimana ia mandi pada sungai tersebut setiap hari sebanyak lima kali, adakah daki yang akan tersisa pada badannya? Mereka menjawab: “Daki mereka tidak akan tersisa sedikitpun”. Rasulullah bersabda: “Demikianlah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapuskan dosa-dosa dengannya” (H.R Bukhari Muslim)

Sebuah riset di Amerika yang diadakan Medical Center di salah satu universitas di sana ‘Pyok’ – seperti dilansir situs ‘Laha’- menegaskan,bahwa shalat dapat memberikan kekuatan terhadap tingkat kekebalan tubuh orang-orang yang rajin melaksanakannya melawan berbagai penyakit, salah satunya penyakit kanker. Riset itu juga menegaskan, adanya manfaat rohani, jasmani dan akhlak yang besar bagi orang yang rajin shalat.

Riset itu mengungkapkan, tubuh orang-orang yang shalat jarang mengandung persentase tidak normal dari protein imun Antarlokin dibanding orang-orang yang tidak shalat. Itu adalah protein yang terkait dengan beragam jenis penyakit menua, di samping sebab lain yang mempengaruhi alat kekebalan tubuh seperti stres dan penyakit-penyakit akut.

Para peneliti ini meyakini bahwa secara umum ibadah dapat memperkuat tingkat kekebalan tubuh karena menyugesti seseorang untuk sabar, tahan terhadap berbagai cobaan dengan jiwa yang toleran dan ridha. Sekali pun cara kerja pengaruh hal ini masih belum begitu jelas bagi para ilmuan, akan tetapi cukup banyak bukti atas hal itu, yang sering disebut sebagai dominasi akal terhadap tubuh. Bisa jadi melalui hormon-hormon alami yang dikirim otak ke dalam tubuh di mana orang-orang yang rajin shalat memiliki alat kekebalan tubuh yang lebih aktif daripada mereka yang tidak melakukannya.

Di samping itu, ada beberapa hasil riset medis yang memfokuskan pada gerakan-gerakan shalat, misalnya: gerakan takbiratul ihram berhasiat melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Gerakan rukuk  bermanfaat untuk menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. I’tidal yang merupakan variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Pada waktu sujud aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak dan posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak, maka aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Duduk yang terdiri dari dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir) yang perbedaannya terletak pada posisi telapak kaki juga memiliki manfaat medis, saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius, posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan, sedangklan duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens, jika dilakukan. dengan benar, postur irfi mencegah impotensi. Gerakan salam, berupa memutarkan kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal, bermanfaat sebagai relaksasi otot sekitar leher dan kepala untuk menyempurnakan aliran darah di kepala yang bisa mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.

Dari sini bisa di ambil konklusi, bahwa tidak terlalu sulit dipahami jika orang yang intens komunikasinya dengan Allah, melalui shalat yang khusyu’ sebagai sarananya, akan berhasil mencapai kemenangan dan keberhasilan di berbagai sendi kehidupan.

Sebab, pada saat shalat seorang hamba sedang ada dalam komunikasi langsung dengan sumber energi dan kekuatan, yaitu Allah SWT. Jika kita sudah dekat dengan sumber energi dan sumber kekuatan itu, maka dengan izin-Nya energi dan kekuatan itu akan mengalir ke dalam diri kita. Sehingga dari sana kemenangan dunia dan akhirat yang kita cita-citakan insyaallah bisa dicapai.

Wallahu a’lam bi as-Shawab.

Ini ada sebuah hadith yg agak panjang.

Diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Husain dari Abu Idris Al-Khaulani bahawa Abu Dzarr r.a. bercerita: “Pada suatu hari aku masuk ke dalam masjid dan menemui Rasulullah saw. sedang duduk seorang diri; maka aku mendekatinya dan duduk di sampingnya, kemudian terjadilah dialog (soal-jawab di antara beliau dan aku).

1. Aku (Abu Dzarr) bertanya, “Ya Rasulullah, engkau memerintahkan aku bersolat?”
Beliau (Rasulullah) menjawab: “Solat adalah sebaik-baik perbuatan,maka perbanyakkanlah atau sedikit.”

2. Aku tanya, “Amal apakah yang paling afdhal?”
Beliau jawab:”Beriman kepada Allah dan berjihad fi sabiilih (pada jalanNYA).”

3. Aku tanya,”Mu’min yang bagaimanakah yang paling afdhal?”
Beliau jawab: “Ialah yang terbaik akhlaknya.”

4. Tanya, “Muslim yg bagaimanakah yang paling selamat?”
Jawab: “Ialah yg menyelamatkan orang-orang dari gangguan lidahnya dan tangannya.”

5. Tanya, “Hijrah yg bagaimanakah yg afdhal, ya Rasulullah?”
Jawab: “Ialah hijrah dari (meninggalkan) perbuatan maksiat.”

6. Tanya,”Solat yang bagaimanakah yang afdhal, ya Rasulullah?”
Jawab:”Berkhusyu’ yang panjang (lama berdiri).”

7. Tanya,”Hamba-hamba sahaya manakah yg paling afdhal utk dimerdekakan?”
Jawab:”Hamba yg paling mahal harganya dan yg paling disayang oleh pemiliknya.”

8. Tanya,”Sedekah yg bagaimanakah yg paling afdhal, ya Rasulullah?”
Jawab:”Pemberian dari orang yg masih kekurangan (tidak kaya) dan pemberian secara rahsia kepada fakir miskin.”

9. Tanya,”Ayat apakah di antara ayat-ayat yg diturunkan kpdmu yg paling besar?”
Jawab:”Ayat Kursi, dan tujuh langit itu jika dibandingkan dengan Kursi, melainkan seperti sebuah cincin (atau lingkaran besi) yg berada di tengah-tengah padang pasir, dan perbandingan Arasy
terhadap Kursi adalah perbandingan padang pasir itu terhadap cincin tadi.”

10. Tanya,”Berapakah bilangan Nabi-Nabi, ya Rasulullah?”
Jawab:”Seratus dua puluh empat ribu.” (124,000)

11. Tanya,”Berapakah yg menjadi Rasul di antara mereka, ya Rasulullah?”
Jawab:”Sebanyak tiga ratus tiga belas.” (313)

12. Tanya,”Siapakah yg pertama, ya Rasulullah?”
Jawab:”Adam.”

13. Tanya,”Apakah dia seorang Nabi yg diutus ?”
Jawab:”Benar, dia diciptakan oleh Allah dengan tanganNYA, ditiupkan ruh ke dalam tubuhnya yang
disempurnakan.”

Dan selanjutnya Rasulullah bersabda:
“Hai Abu Dzarr, empat dari mereka adalah dari golongan Siryaniun, iaitu Adam, Syith, Nuh, dan Idris, iaitu Nabi pertama yg dapat menulis dengan pensel. Dan empat Nabi dari keturunan Arab, iaitu Hud, Syuaib, Saleh, dan Nabimu, hai Abu Dzarr.”

14. Abu Dzarr bertanya,”Berapa kitab telah diturunkan Allah, ya Rasulullah?”
Ar-Rasul saw. jawab:”Seratus empat kitab (104). Kepada Syith tlh diturunkan lima puluh halaman, Idris tiga puluh halaman, Ibrahim sepuluh halaman, Musa sebelum Taurat ada sepuluh halaman,
di samping kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an.”

15. Tanya,”Ya Rasulullah, apakah isi lembaran yg diturunkan kepada Ibrahim?”
Jawab:”Isinya ialah: Hai Raja yg berkuasa, dipuji dan sombong, sesungguhnya AKU tidak mengutusmu untuk mengumpulkan dunia, melonggokkan sebahagian di atas sebahagian, akan tetapi AKU mengutusmu untuk menerima doanya orang yg teraniaya agar tidak sampai kepada-KU, kerana AKU tidak akan mengembalikannya walaupun ia datang dari seorang yg kafir. Seorang yg bijaksana akan membahagi masanya menjadi beberapa waktu untuk bermunajat kepada Tuhannya, beberapa waktu utk bertanya pd dirinya sendiri (muhasabah), beberapa waktu utk merenungkan ciptaan Allah, dan beberapa waktu lagi utk mengurus keperluan makan dan minumnya. Seorang yg bijaksana tidak akan meributkan (menyibukkan) diri melainkan utk tiga tujuan: mencari bekal utk hari kemudian (Akhirat), mencari nafkah hidup, dan mencari kelazatan yg halal. Seorang yg bijaksana hendaklah mengenal zamannya, tekun mengurus urusannya, dan menjaga lidahnya. Barangsiapa yg menyesuaikan bicaranya dengan perbuatan, maka akan jarang berbicara melainkandalam hal-hal yg mengenai dirinya.”

16. Tanya,”Apakah isi lembaran-lembaran yg diturunkan ke atas Musa, ya Rasulullah?”
Jawab:”Isinya adalah semua peringatan dan ibarah; aku hairan dari orang yg yakin akan mati bagaimana ia dapat bersuka-ria, aku hairan dari orang yg yakin dgn adanya takdir bagaimana ia
membanting tulang bekerja, aku hairan dari org yg melihat keadaan dunia yg selalu berubah bagaimana ia dapat tenang mempercayainya dan aku hairan dari orang yg yakin adanya
hari hisab besok, bagaimana ia enggan beramal.”

17. Tanya,”Ya Rasulullah, apakah ada yg sampai kpd kita sesuatu yg dulu ada di tangan Ibrahim dan Musa, dan apakah yg diturunkan Allah kepadamu?”
Jawab:”Ada, cubalah baca hai Abu Dzarr, ‘Sesungguhnya beruntunglah orang yg membersihkan diri (dengan beriman) dan ia ingat akan nama Tuhannya, lalu ia bersembahyang. Tetapi kamu (orang2 kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.’ Sesungguhnya ini benar2 terdapat dalam kitab2 yg dahulu (iaitu) kitab2 Ibrahim dan Musa.”

18. Abu Dzarr bertanya,”Apakah wasiatmu kepadaku, ya Rasulullah?”
Ar-Rasul saw menjawab:”Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah,kerana itu (taqwa) adalah pokok segala urusanmu.”

19. Abu Dzarr bertanya lagi,”Apa lagi ya Rasulullah?”
Rasulullah saw. menjawab:”Bacalah Al-Qur’an dan berzikirlah (ingatlah) kepada Allah, kerana itu akan menjadi zikir buatmu di langit dan cahaya bagimu di dunia.”

20. Tanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab:”Hindarilah banyak ketawa, kerana itu mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah.”

21. Tanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab:”Laksanakanlah kewajipan berjihad, kerana itu merupakan kerahiban perjuangan bagi umatku.”

22. Tanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab:”Hendaklah engkau selalu diam (tidak bercakap) melainkan untuk kebaikan, kerana itu dapat mengusir syaitan dan dapat menolongmu dalam urusan agamamu.”

23. Tanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab:”Lihatlah kepada orang yg di bawahmu dan janganlah melihat orang yg berada di atasmu, agar engkau tidak memandang rendah akan nikmat yg Allah berikan kepadamu.”

24. Abu Dzarr bertanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?
Jawab:”Cintailah orang2 fakir miskin dan duduklah bersama-sama mereka, agar engkau tidak memandang rendah dan kecil nikmat Allah kepadamu.”

25. Bertanya Abu Dzarr,”Apa lagi, ya Rasulullah?”
Rasulullah saw. menjawab:”Hubungilah kerabatmu, walaupun mereka memutuskan hubungannya dengan engkau.”

26. Tanya Abu Dzarr,”Apa lagi ya Rasulullah?”
Jawab Rasululllah:”Katakanlah apa yang haq (yg benar) walaupun itu merupakan hal yg pahit.”

27. Tanya,”Apa lagi ya Rasulullah?”
Jawab:”Janganlah engkau takut dicerca orang kerana membela agama Allah.”

28. Tanya,”Apa lagi ya Rasulullah?”
Jawab:”Apa yang engkau ketahui tentang dirimu akan mencegahmu mencampuri urusan orang lain dan janganlah engkau sesalkan bahawa orang tidak melakukan apa yg engkau sukai. Dan cukup sebagai aib bahwa engkau mengetahui tentang orang lain apa yg engkau tidak mengetahui tentang dirimu sendiri.”

Kemudian Rasulullah saw. memukul dadaku dengan tangannya seraya bersabda: “Tiada aqal seperti kebijaksanaan, tiada wara’ seperti memahami diri dan tiada kebanggaan seperti akhlak yang baik.”

TERJEMAHAN SINGKAT TAFSIR IBNU KATSIER, JILID 2, pp. 610-619.

Wassalaam.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.